Padasetiap kapal yang sandar di pelabuhan kapal harus dalam keadaan aman sesuai situasi normal di pelabuhan, nahkoda harus mengatur agar tugas jaga yang memadai dan efektif tetap berjalan untuk tujuan keselamatan, pengaturan untuk melaksanakan tugas jaga dek ketika kapal di pelabuhan harus selalu
Dimanaada teknik dan cara bagaimana sandar dan lepas sandar, bila arus dari depan dan ombak dari arah laut dan banyak lagi aturan sandar yang sudah biasa dilakukan harus menurut dan mengikuti prosedur sandar dan lepas sandar kapal di pelabuhan. Adapun beberapa persiapan berikut ini 14. 1. Semua instruksi diberikan dari anjungan navigasi. 2.
vG1XhZn. Setibanya kapal di dermaga pelabuhan ada prosedur sandar dan lepas sandar kapal di pelabuhan yang harus di ikuti dan di terapkan, semua itu harus mengikuti peraturan peraturan yang sudah ada dalam undang-undang pelayaran. Dimana ada teknik dan cara bagaimana sandar dan lepas sandar, bila arus dari depan dan ombak dari arah laut dan banyak lagi aturan sandar yang sudah biasa dilakukan harus menurut dan mengikuti prosedur sandar dan lepas sandar kapal di pelabuhan. Adapun beberapa persiapan berikut ini14. 1. Semua instruksi diberikan dari anjungan navigasi. 2. Namun demikian perwira jaga harus melaporkan setiap situasi berbahaya yang pada operasi penambatan. 13 196 14 2Tromol/winch harus dihidupkan paling sedikit satu jam sebelum penambatan. 4. Pada waktu menerima atau melepaskan kapal tunda, isyarat yang jelas harus dimengerti dan diakui antara anjungan dan stasiun penambatan. 5. Seluruh operasi penambatan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang merupakan tanggung jawab perwira. 6. Sebelum tiba, Mualim I harus memastikan seluruh stopper, tali penghantar, dan tali lainnya siap digunakan. Pelindung harus pada tempatnya dan lengkap untuk tiap tali tambat. 7. Kirim hanya jumlah tali tambat yang dapat ditangani pada suatu waktu. Jangan mengirim seluruh tali tambat pada waktu bersamaan pada waktu kapal sedang mendekati dermaga atau menyesuaikan posisinya. 8. Untuk mengatur posisi kapal, gunakan hanya satu tali spring dan tali tambat yang ada di haluan yang terletak di buritan kapal. 9. Jangan mencampur beberapa jenis tali tambat tali, misalnya bila tali tambat haluan dari nilon, maka semua tali tambat haluan harus dari tali nilon dengan diameter yang sama. Setelah proses kapal sandar telah dilakukan maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah pemindahan antar kapal Ship to Ship Transfer. Prosedur yang harus diikuti dalam melakukan pemindahan antar kapal adalah 2. Pastikan posisi, kecepatan dan arah pendekatan kesiapan perlengkapan dan kondisi kapal serta keadaan laut termasuk arus pasang surut, arus tinggi ombak dan alun. 3. Perbaharui kondisi laut dan cuaca secara berkala dan beritahu kapal lain yang akan melakukan pemindahan antar kapal. 4. Daprah dan tali penghantar harus siap. 5. Komunikasi antar kapal, di kapal sendiri dan awak deck harus jelas. 6. Jika memungkinkan, jangan melakukan pemindahan antar kapal pada waktu malam hari. 7. Dalam melakukan pemindahan antar kapal Perusahaan harus terus diberitahu. 8. Jangan mendekati kapal dengan menggunakan pasang/arus atau angin, melainkan harus selalu dari bawah angin dan melawan arus. Jika tidak terdapat ruang yang cukup untuk olah gerak, minta kapal lain tersebut untuk berlabuh jangkar. 9. Isi Checklist Pemindahan antar kapal sebelum operasi dimulai. Dalam prosedural ataupun tata cara bersandarnya kapal dibutuhkan peralatan-peralatan yang mendukung terjadinya poses bersandarnya kapal tersebut adapun peralatan yang dibutuhkan untuk bersandarnya kapal antara lain 15 1. Tali Mooring. Menurut kamus bahasa Indonesia, tros yaitu tali pengikat kapal di haluan dan buritan kapal-kapal sandar atau tambal di bui atau dadung 15 Diakses dari, kapal. Penambatan pengikatan kapal di dermaga paling sedikit oleh empat tali yaitu tros muka head line, tros belakang stren line, spring muka forespring dan spring belakang back spring. Kadang-kadang untuk kapal-kapal yang besar atau pada gelombang atau arus/angin besar ditambahkan tros melintang. Hanya harus diingat agar tali-tali itu sama kencangnya. Hubungan tros kedarat/dermaga umumnya dilakukan dengan tali buangan. Tali buangan dibuat dari tali manila atau misal dimana ujungnya diberi kantong pasir atau sebuah simpul tali sebagai pemberat. Pada akhir-akhir ini tali buangan dibuat dari nilon karena kecuali ringan juga jarang membelit dan lebih kuat. Pada saat kapal mendekati dermaga maka dilemparkan tali buangan dari kapal ke dermaga. Setelah ujung tali buangan sampai didarat maka ujung tali buangan yang berada dikapal diikatkan pada tali tros. Didarat orang menarik tali buangan dan bersamaan dengan itu kapal diarea diukir. Jika ujung mata tali tros itu sampai didarat maka dimasukan kedalam bolder dan dari kapal tali tros tersebut di hibob ditarik. Apabila kebetulan bolder didermaga yang akan digunakan telah dipakai oleh kapal lain, maka tali tros tersebut dimasukan dibawah mata dari tali tros kapal lain itu, kemudian baru dipasang di bolder. Cara ini dimaksudkan untuk mempermudah melepaskan tros oleh kapal yang terdahulu berangkat. Setelah tali tros cukup kencang maka penarikan di stroper dan dengan cepat dilepaskan lingkarannya dari split penggulung capstan atau warping wich, kemudian dibelitkan secara menyilang dibolder. Pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan cepat karena fungsi stopper pada saat itu hanya untuk menahan tros, yang kencang untuk sementara saja. Umumnya kapal-kapal besar bersandar dengan mendapat bantuan kapal tunda. Kalau tidak ada kapal tunda gerakan harus dibuat sedemikian rupa sampai dekat dengan dermaga. Umumnya gerakannya dilakukan antara lain, yaitu a. Pada posisi pertama Kapal mendekati dermaga dengan membentuk sudut dan kecepatan kecil, setelah pada jarak yang cukup tros depan dikirim ke darat dengan pertolongan tali buangan. b. Pada posisi kedua Mesin mundur setengah, kemudi diatur hingga buritan akan kekiri dan tros belakang dilempar kedarat dengan pertolongan tali buangan. c. Pada posisi ketiga Mesin stop, tros muka dihibob ditarik menurut kebutuhan hingga haluan akan bergerak kedarat sedang buritan akan menjauh kelaut. Sewaktu tali belakang kencang maka titik putarnya berpindah dimana tali belakangnya terikat, sehingga timbul tegangan samping yang cukup berat. Kemudian tros belakang dihibob bergantian dengan tros depan, agar pada waktu menghibob tali-tali ini, kapal tidak menggeser kemuka maupun kebelakang, maka dikirimkan spring muka dan belakang dan dipasang dibolder didarat. 2. Jangkar Pengaturan Jangkar di gunakan untuk berlabuh jangkar dan juga membantu pada saat kapal sandar dan lepas sandar. Pada kapal modern pada umumnya dilengkapi dengan dua jangkar yang berada di haluan. Susunannya anchor arrangement adalah sebagai berikut a. Anchor windlass, untuk heave up dan slack away chain cable. b. Anchor cable chain cable menghubungkan jangkar dan windlassserta cable clane. c. Bow Stopper, menahan anchor dan chain cable d. Hawsepipe, tempat /jalur keluarnya anchor dan chain cable e. Anchor, menancapkan pada dasar laut f. Chain locker, tempat menyimpan chain cable g. Cable clane, tempat mengikat ujung chain cable didalam chain locker C. Prosedur Tentang Pengalihan Muatan terhadap Kapal yang Bersandar
Setelah sempat membahas beberapa bidang yang ada di pelayaran, kali ini Koneksea akan membahas kegiatan-kegiatan kapal di pelabuhan. Yuk, kita bahas bareng-bareng!1. Arrival/Kedatangan KapalSebelum memasuki kawasan kolam pelabuhan, kapal akan melakukan Drop Anchor terlebih dahulu. Kemudian, laporan kedatangan kapal tersebut akan dikirimkan kepada pihak-pihak terkait dalam proses shipment,  untuk berkoordinasi membawa kapal ke dalam kolam pelabuhan. Dimana notabenenya membutuhkan kepastian posisi kapal karena banyaknya kegiatan labuh di berbagai titik sampai di kolam pelabuhan, pada umumnya kapal yang datang akan melakukan atau menyampaikan beberapa info seperti di bawah ini a. EOSP / End of Sea Passage b. Arrival time c. Dropped Anchor d. NOR Tendered Terdapat banyak kegiatan di kolam pelabuhan, mulai dari kapal yang masuk silih berganti, penarikan tongkang yang dilakukan oleh tug, dan beberapa proses husbandary yang dilakukan pada saat kapal berlabuh. Banyaknya kegiatan ini tentu diikuti pula oleh banyaknya jumlah kapal di pelabuhan yang dapat menimbulkan kongesti/antrian untuk sandar, karena kendala kurangnya kapasitas sandar di dermaga/ Proses Naik PanduSetelah mendapat informasi bahwa kapal akan sandar pada waktu dan jam yang telah ditentukan, awak kapal tersebut akan mempersiapkan mesin dan mengangkat jangkar. Gambar di bawah menunjukkan proses bagaimana pandu menuju kapal MV Rajawali untuk mengarahkannya masuk ke arah dermaga. Setelah sampai pada titik di mana kapal berlabuh, pandu akan naik ke atas kapal untuk mengambil alih navigasi dan mengarahkan alur pelayaran yang harus dilewati oleh kapal. Hal itu dilakukan karena kondisi dan informasi alur pelayaran di pelabuhan menjadi tanggung jawab pihak pandu. Sekadar informasi, kandas dalam proses pemanduan di pelabuhan tidak jarang terjadi loh, mates. Apabila hal itu sampai terjadi, maka akan ada banyak pihak yang dirugikan, khususnya pemilik kapal/ship owner. Oleh karena itu, pandu memiliki peran penting untuk memastikan kapal tidak menubruk kapal lain di sekitar kolam pelabuhan selama proses pengarahan ke pandu naik ke atas kapal, pihak kapal akan mempersiapkan laporan sebagai berikut a. Anchor up b. Pilot on board Proses penyandaran di setiap pelabuhan tentunya membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Ada yang berlangsung selama tiga jam, empat jam, atau bahkan hingga enam jam. Hal tersebut tergantung dari jauh atau tidaknya jarak antara pelabuhan dengan titik anchorage area. 3. Proses PenyandaranSetelah melewati alur pelayaran, tugas pandu digantikan oleh tug, yang akan membantu proses pendempetan kapal ke dermaga untuk mempermudah proses mooring. Penggunaan jumlah tug yang berkisar antara satu sampai dua unit biasanya tergantung kebutuhan dan kondisi dalam penyandaran. Biasanya, kapal yang cukup besar atau kondisi angin yang cukup kencang di area penyandaran kapal membutuhkan tersedianya dua unit tug. Ketika kapal akan sandar, semua kru kapal yang bertugas sudah siap di posisinya, tergantung apakah kapal akan bersandar di starboard side sisi kanan atau port side sisi kiri. Umumnya, tim mooring stand by di posisi tali akan ditambatkan di masing-masing ujung bolder. Diperlukan koordinasi yang jelas dalam proses penyandaran yang dilakukan pihak kru kapal dan tim mooring. Agar kegiatan menambatkan kapal dapat berjalan dengan cepat, prosesnya diawali dengan menambatkan tali pertama yang disebut “first line”, kemudian disusul dengan tali berikutnya di bagian belakang kapal. Berikut gambaran dalam proses mooring saat penyandaran kapal 4. Persiapan Pemeriksaan Setelah kapal sandar, pihak kapal/captain akan melaporkan waktu penyandaran berupa first line, all made fast, dan gangway down pada parties yang bersangkutan agent, ship owner, charter. Sementara itu, di area dermaga, kru kapal menurunkan tangga sebagai jalan bagi pihak quarantine/karantina, imigrasi, bea cukai, dan port authority untuk naik ke kapal. Pihak pertama yang naik ke kapal adalah pengkarantina, yang bertugas memastikan kapal bersih dan terbebas dari penyakit yang beresiko menular. Hasil pengecekan dari pihak yang melakukan karantina menjadi penentu layak atau tidaknya kapal untuk melakukan kegiatan/free pratique. Di dalam kapal, pihak Port Authority memeriksa kelengkapan dokumen maupun sertifikat untuk memastikan kapal telah memenuhi syarat kelayakan pun, dokumen atau sertifikat yang harus diberikan oleh pihak kapal untuk diperiksa berupa a. First Line b. All Made Fasted c. Gangway Down d. Free Pratique e. Port Official On BoardSetelah pihak Port Authority turun dari kapal, Surveyor yang dipercaya oleh Charterer dan Shipper akan naik ke atas kapal untuk mengecek tangki kapal. Bila tangki dinilai sudah layak untuk pemuatan, kru kapal dan tim Surveyor akan mempersiapkan jalur yang menjadi aliran muatan/minyak yang akan masuk ke tangki kapal. Dari proses pengecekan tangki sampai aktivitas muat dimulai, laporan yang diberikan adalah sebagai berikut a. Safety Meeting b. Tanks Inspection c. Notice of Readiness Accepted / NOR Accepted d. Cargo Hose Connected e. Commenced LoadingSelama proses pemuatan, pihak Agent, Surveyor dan kru kapal mengawasi, mengontrol, dan menginformasikan perkembangan proses muat, supaya pihak-pihak yang berperan pada shipment MV. Rajawali mengetahui bahwa pemuatan berjalan dengan baik, serta menghindari risiko terjadinya delay pada kegiatan tersebut. 5. Penyelesaian Dokumen dan Persiapan Keberangkatan Kegiatan pemuatan yang telah berjalan menjadi sinyal bagi pihak Agent untuk segera menyelesaikan seluruh urusan perdokumenan. Setelah proses pemuatan selesai, Surveyor akan melakukan pengecekan dan penghitungan kesesuaian muatan. Apakah muatan yang sudah masuk kedalam tangki sudah sesuai dengan jumlah yang disetujui dengan stowage plan dan tentunya jumlah yang termuat sudah diterima kedua belah pihak yaitu penjual dan dan persetujuan terhadap jumlah muatan yang ada pada kapal tentunya melewati proses ullaging atau pengukuran volume muatan, biasanya penghitungan jumlah muatan ini membutuhkan waktu 2-3 jam. Apabila jumlah yang ada sudah disetujui kedua belah pihak, pihak agent segera menyiapkan dokumen keberangkatan seperti pengembalian dokumen asli milik kapal dan dokument ekspor. Salah satu dokumen yang menjadi keputusan bahwa kapal diizinkan berangkat adalah Port Clearance, dimana surat tersebut berisikan keputusan berlayar dari pelabuhan tempat kapal bersandar untuk mengizinkan kapal boleh menunggu pandu yang sedang menuju kapal yang sebelumnya telah berkoordinasi dengan pihak agen, pihak kapal dan agen melaporkan aktivitas berikut pada parties yang terkait, sebagai berikut a. Completed Loading b. Cargo Hose Disconnected c. Ullage/Gauging and Calculation d. Completed Document e. Cargo Documents on BoardDalam proses naiknya pandu ke atas kapal, pihak agen berkoordinasi dengan Tim Mooring untuk melakukan pelepasan tali/yang disebut dengan proses “Unberthingâ€. Tidak lupa untuk memastikan bahwa dibeberapa pelabuhan memerlukan waktu tambahan dalam menunggu proses Custom Clearance atau penyelesaian proses bea cukai yang dilakukan oleh pengirim muatan/Shipper, tentunya kita akan bahas dikonten berikut nya ya Mates!Kapal yang sudah dibawa pandu hingga ambang luar sudah siap menuju pelabuhan selanjutnya yaitu Discharging Port/Pelabuhan Bongkar. Kemudian tak lupa pihak agent dan kapal sudah berkoordinasi untuk melakukan pelaporan pada parties terkait untuk meng-update posisi kapal terakhir dengan memberikan laporan sebagai berikut a. Pilot on Board b. Unberthing c. Sailing outBerikut kegiatan kapal yang secara umum ada di pelabuhan mates! Bisa dilihat ternyata banyak juga ya parties yang berperan dalam kegiatan pemuatan kapal? Semoga board kali ini bermanfaat ya buat kamu yang akan menjalani karir dibidang pelayaran khususnya dibidang Shipping Agency. Ditunggu komentar dan masukannya untuk pengembangan konten Carry On lebih baik Lainnya
kapal sandar di pelabuhan